JAWABAN DARI PERTANYAAN DALAM FILSAFAT
Filsafat dapat dipandang sabagai konsep dasar tentang kehidupan. Konsep tersebut terangkum dalam tiga pilar filsafat yang meliputi: a) ontologi; b) epistimologi; c) aksiologi. Sedangkan aspek yang terkandung dalam filsafat antara lain untuk menjawab tentang mengapa, apa, bagaimana dan untuk apa. Filsafat merupakan batasan antara pikiran dan hati, dapat juga dikatakan bahwa filsafat merupakan batasan antara pengetahuan dan spiritual. Pikiran dapat berupa pengetahuan dan hati bersifat spiritual. Berfilsafat adalah berpikir dalam koridor spiritual, etik dan estetika. Jadi dalam filsafat melibatkan dua hal yang penting yaitu berhubungan dengan pikiran dan hati. Berpikir dalam filsafat haruslah berpikir secara intensif dan ekstensif. Berpikir intensif adalah berpikir sedalam-dalamnya dan berpikir ekstensif adalah berpikir seluas-luasnya.
Ilmu merupakan pengetahuan yang akan menambah wawasan kita di dunia ini. Ilmu tidak terbatas jumlahnya dan tidak pernah akan habis. Kapanpun, dimananpun, siapapun dapat mencari ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Filsafat juga termasuk sebuah ilmu tentang hakekat sesuatu. Untuk memahami ilmu melalui pendekatan filsafat, maka dibutuhkan tiga pilar penting dalam filsafat yang telah disebutkan di atas yang meliputi ontologi, epistimologi dan aksiologi. Hubungan antara ketiganya adalah sebagai berikut:
1. Ontologi dan ontologi itu sendiri
Yaitu hakekat dari hakekat, intinya adalah untuk mengetahui hakekat. Pada kenyataannya hakekat tidaklah mudah untuk dipahami. Untuk menjelaskan tentang hakekat tidak cukup hanya sekadar kata-kata saja. Dengan demikian, hanya Tuhan yang mengetahui hakekat dari hakekat itu.
2. Ontologi dan epistimologi
Yaitu hakekat dari epistimologi, epistimologi sama dengan metode, maka dapat dinyatakan sebagai hakekat dari metode, metode untuk menggapai suatu hakekat. Dalam epistimolgi menjelaskan tentang benar dan salah. Pada buku yang menceritakan tentang kebenaran metode, tercermin mengenai usaha untuk menangkap hakekat metode dengan mengetahui kebenaran dari metode itu.
3. Ontologi dan aksiologi
Yaitu tentang hakekat baik dan buruk. Pemahaman orang tentang sesuatu yang baik dan buruk itu berbeda-beda. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain, begitu pula sebaliknya buruk menurut kita belum tentu buruk menuru orang lain. Jadi hakekat baik buruk itu relatif, tergantung penilaian masing-masing orang.
4. Epistimologi dan ontologi
Yaitu metode untuk menggapai hakekat. Jika berkaitan dengan olah pikir, maka metode untuk menggapai hakekatnya adalah dengan filsafat, sedangkan jika berkaitan dengan hati, maka metodenya dengan tarekat yang bersifat spiritual.
5. Epistimologi dan epistimologi
Yaitu kebenaran suatu metode, sebab kebenaran merupakan bagian dari epistimologi begitu juga dengan metode. Untuk mengetahui kebenaran metode, sebelumnya kita harus mengetahui tentang hakekat dari epistimologi itu sendiri.
6. Epistimologi dan aksiologi
Yaitu metode untuk mengungkap baik dan buruk. Metode yang bisa digunakan dalam dalam mengungkap baik dan buruk itu bermacam-macam. Cara seseorang untuk mengungkap sesuatu belum tentu sama dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Oleh karena itu, metode untuk mengungkap kebaikan dan keburukan tergantung dari orang yang melihatnya.
7. Aksiologi dan ontologi
Yaitu baik buruknya suatu hakekat, selain itu menjelaskan tentang tata etik dan estetikanya yang berkaitan dengan hakekat.
8. Aksiologi dan epistimologi
Yaitu tata cara dalam beretika, dengan kata lain metode dalam etik dan estetika. Dalam kehidupan sehari-hari tata cara beretika sangatlah penting, terutama dalam adat Jawa. Anak dididik untuk sopan santun terhadap orang yang lebih tua, inilah contoh penerapannya.
9. Aksiologi dan aksiologi
Yaitu baik buruknya tetang baik buruk. Misalnya untuk menyampaikan kebaikan maka harus dilakukan dengan cara yang baik juga, seperti dalam ritual Jawa pada resepsi pernikahan. Dalam sebuah resepsi Jawa biasanya menggunakan adat istiadat yang secara turun temurun dilakukan. Hal ini dipercaya akan membawa berkah dalam kehidupan pernikahan.
Setelah kita memahami tentang pendekatan dalam filsafat, selanjutnya mengenai batas pikiran kita. Dari mulai tang terendah sampai yang tertinggi, dimensi manusia meliputi: material (tindakan) → formal (tulisan) → normatif (pikiran) → spiritual (doa). Dan batas pikiranku adalah hatiku, sebab tidaklah semua yang ada dalam pikiranku mampu menjawab doaku.
Dalam filsafat kita sering mendengar kata “mitos”. Mitos mempunyai banyak arti yaitu dalam arti sempit, luas, dalam dan dangkal. Ada juga mitos yang bersifat primitif, contohnya yang masih percaya dengan yang berbau mistik. Mitos mencakup tentang hakekat mitos, baik buruknya mitos, tata car mengungkap mitos,dsb. Belum tentu mitos itu tidak baik, contohnya apa yang diketahui anak sebetulnya itu adalah mitos, dan mitos itu baik dalam art yang demikian.
Filsafat mempelajari tentang dunia, dunia yang dapat dirangkum dalam satu kata yaitu “kritis”. Filsafat kritis dikemukakan oleh Immanuel Kant. Dalam berfilsafat kita harus melakukan refleksi diri, dengan membaca dan terus membaca dengan kritis salah satunya dengan membaca elegi. Dan dalam elegi untuk mengaitkan antara tesis, antitesis dan sintesis adalah dari hidup kita masing-masing dan selanjutnya mengaitkan dengan komponen dalam kehidupan kita.
Filsafat juga berkaitan dengan bahasa. Dapat dikatakan bahwa bahasa tidak lain tidak bukan adalah rumahku, pikiranku. Dalam filsafat bahas adigunakan untuk menjelaskan sesuatu agar kita lebih mudah memahaminya. Dari zaman dahulu orang telah menggunakan bahasa sebagai alat penghubung, sebagai alat untuk menjelaskan. Sepanjang zaman orang berfilsafat menggunakan bahasa, sampai-sampai ada tokoh bahasa yang menjelaskan tentang struktur bahasa. Bahasa dalam filsafat Jawa berupa sastra gending.
Untuk menjelaskan keagungan Tuhan, maka kita harus menggunakan bahasa yang baik dan benar yaitu dengan menyebut nama-Nya dengan episte yang baik. Wujudnya adalah dengan kita berdoa, berdoa juga merupakan cara untuk mensintesiskan antara pikiran, hati dengan dunia kita. Berpikir berawal dari kesadaran, kesadaran diikuti tentang sadar ke dalam (berfilsafat), sadar ke luar (berkhayal).

1 komentar:
Good...teruskan berfilsafat
Posting Komentar