NIM : 08301244003
Prodi : Pend. Matematika 2008
FILSAFAT MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
Dalam pelajaran sejarah, kita mengenal yang namanya bangsa Babilonia, bangsa Mesopotamia, bangsa China, dll. Pada zaman tersebut mulai muncullah penemuan-penemuan yang sampai saat ini masih digunakan. Awal munculnya matematika juga terjadi pada zaman-zaman tersebut. Ini selanjutnya dikenal dengan fenomena alam untuk bidang matematika. Seiring dengan perkembangan teknologi, matematika juga mengalami perkembangan dengan tidak meninggalkan apa yang sudah ada. Perkembangan tersebut dimulai dengan adanya fenomena matematika dan kemudian memasuki tahap noumena. Menurut Immanuel Kant noumena bermakna tidak dapat dipikirkan.
Berkembangnya filsafat ditunjukkan dari hermenitika filsafat yaitu bersifat tetap dan berubah. Yang bersifat tetap meliputi: identitas, absolut, tunggal, koheren dan yang tidak kalah penting adalah logika. Matematika bersifat tetap adalah Permenides, sedangkan matematika bersifat berubah, itulah menurut Heraclitos. Berubah meliputi: plural, relatif, kontradiksi, korespondensi, dan yang ada pada pengalaman.
Representasi matematika yang bersifat tetap ditunjukkan dengan rumus yang telah dibuktikan oleh Pythagoras. Ia membuktikan mengenai Teorema Pythagoras yang sekarang diberikan di SMP. Selain itu juga ada Euclid dengan geometri aksiomatisnya. Sedangkan Non Euclid bersifat formal aksiomatis, contoh: pada perguruan tinggi antara lain UI, ITB dan UGM.
Dari geometri aksiomatis berkembang suatu intuisinism dengan tokoh matematikanya adalah Brouwer yang mendifinisikan aksioma, sistem dan fondamentalist. Kebalikan dari pemikirannya, adalah tunggal, lengkap dan konsisten yang semuanya menurut Godel. Hasil dari pemikiran keduanya mengarahkan bahwa kita pada zaman sekarang ini termasuk sebagai kaum Hilbertianist. Indonesia didominasi kaum Hilbertianist, matematika logicist, matematika formalist, matematika murni, matematika perguruan tinggi dan matematika aksiomatis. Dengan modal yang dimiliki menciptakan sifat abstrak, ideal, identitas dan impersonal yang diidentikkan dengan pelaksanaan UN. UN merupakan wujud dari revolusi pendidikan yang dibahas dalam Surat Terbuka untuk Presiden yang ditayangkan dalam blog. Inilah bentuk partisipasi aktif dalam bidang pendidikan matematika ini.
Semua yang dijabarkan di atas merupakan bentuk umum dari peran filsafat dalam dunia pendidikan. Filsafat mempunyai tiga pilar yang sangat penting yaitu:a) ontologi, menjawab hakekat sesuatu, b) epistimologi, menjawab mengenai mengapa dan bagaimana, c) aksiologi, menjelaskan kegunaannya untuk apa. Dalam belajar filsafat kita membutuhkan metode-metode untuk mempelajarinya. Metode tersebut salah satunya berpikir intensif dan ekstensif. Berpikir intensif adalah berpikir sedalam-dalamnya, sedangkan berpikir ekstensif adalah berpikir seluas-luasnya.
Dalam belajar filsafat pendidikan matematika dibutuhkan pemahaman yang lebih untuknya. Pemahaman tentang hakekat sesuatu sangatlah penting dalam pembelajaran ini. Jika kita tidak mengetahuinya, maka akan sulit untuk mengembangkan ilmu yang diperoleh. Sebagai contoh, untuk memaknai suatu bilangan dalam matematika kita perlu tahu tentang apa itu suatu bilangan. Dalam contoh konkritnya bagaimana kita mengartikan suatu 2x. Setiap orang mempunyai pemikiran berbeda-beda untuk mendefinisikannya. 2x dapat diartikan 2 dikalikan dengan sesuatu. Ada juga yang mengartikan abstraksi dari besaran yang didefinisikan sebagai x, dll. Sebagai contoh yang lain misalnya: 2x+3y=7, dalam filfafat dapat dideskripsikan menjadi abstraksi dari besaran 2 dikalikan dengan abstraksi sesuatu yang identik dengan x dan belum diketahui dijumlahkan dengan abstraksi dari besaran 3 dikalikan dengan abstraksi sesuatu yang identik dengan y dan belum diketahui disamakan dengan 7.
Contoh di atas merupakan bentuk realistic. Realistic meliputi 2 hal yaitu vertikal dan horisontal. Vertikal memuat model dan yang bersifat abstrak atau formal, sedangkan horisontal memuat yang berupa skema dan fisik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar