Usaha untuk Menterjemahkan Dunia
Bumi kita tercinta ini merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Dialah Maha Segala-galanya yang menciptakan bumi dengan keanekaragaman di dalamnya. Keanekaragaman yang ada semakin menambah pesona bumi ini. Setiap obyek yang ada di bumi memiliki kodrat masing-masing yang berbeda antara satu dan yang lainnya.
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain. Dengan karunia yang dimiliki ini, manusia diharapkan dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan menyalahgunakan apa yang telah dikaruniakan pada kita. Manusia yang diberikan akal dan pikiran, haruslah dapat menggunakannya dalam segala hal. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan tidak akan pernah habis, maka berusahalah untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak pengetahuan yang kita peroleh, semakin berkembanglah ilmu kita.
Bagaimana cara kita memperoleh ilmu? Inilah pertanyaan yang sering muncul. Untuk memperoleh ilmu atau pengetahuan, salah satu caranya adalah dengan menterjemahkan dunia. Apakah maksud dari menterjemahkan dunia itu??!!! Inilah pokok bahasan yang akan diuraikan di sini.
Dunia tempat kita tinggal ini menyimpan berbagai kekayaan. Banyak sekali hal yang terkandung dalam dunia ini. Untuk mengetahuinya kita perlu menterjemahkan dunia. Mengapa perlu menterjemahkan dunia? Karena bergerak dalam ruang dan waktu. Seperti halnya dunia yang meliputi ruang dan waktu, maka menterjemahkan dunia perlu dilakukan karena bergerak dalam ruang dan waktu. Alat untuk menterjemahkan dunia yaitu dengan abstraksi.
Dalam matematika abstraksi yang paling sederhana berupa titik. Titik tersebut bisa berada dalam pikiran dan berada di luar pikiran. Di dalam pikiran kita terdapat kategori yang meliputi empat komponen yaitu kualitatif, kuantitatif, kategori dan relasi/hubungan. Sebuah titik bisa sebagai obyek dan bisa sebagai subyek. Titik sebagai obyek pikir sedangkan sebagai subyek berupa kesadaran dalam ruang dan waktu. Jika dalam dunia abstraksi disebut ideal, maka titik dapat berupa garis atau bidang atau lingkaran atau bangun tak beraturan dan dapat berupa apa saja. Inilah yang merupakan bagian dari separuh dunia. Sedangkan separuh dunia yang lain merupakan pengalaman yang berupa kenyataan. Contoh dari separuh dunia yang lain: air, tanah, batuan, dll.
Untuk belajar menterjemahkan dunia, kita harus memulainya dengan belajar berfilsafat. Berfilsafat yaitu berpikir sedalam-dalamnya dan seluas-luasnyaa. Inilah bentuk dari menterjemahkan dunia itu. Belajar filsafat ditunjukkan dengan banyak membaca elegi-elegi. Dengan membaca elegi, pengetahuan kita akan bertambah.Dengan demikian kita akan memperoleh tambahan pengetahuan dari berbagai hal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar