Nama : Mutiah Rahmatil Fitri
NIM : 08301244003
Prodi : Pendidikan Matematika Swadana 2008
SERBA – SERBI DALAM FILSAFAT
Berfilsafat adalah berpikir dalam koridor spiritual, etik dan estetika. Dalam berfilsafat, metode yang digunakan yaitu: a) berpikir intensif (dalam sedalam-dalamnya) dan berpikir ekstensif (luas seluas-luasnya); b) menterjemahkan dan diterjemahkan. Berpikir intensif dan ekstensif terwujud dalam berpikir terang yang diekstensikan terang dalam hati, terang dalam ontologi yang sering dikenal dengan istilah hakekat berpikir. Setinggi-tingginya berpikir adalah refleksi diri yaitu dalam mengambil keputusan. Terang dalam hati menggambarkan kedekatan kita dengan Sang Pencipta, yang merupakan inti dari kesadaran vertikal.
Suatu intuisi tumbuh dari kesadaran. Intuisi adalah sebuah pengalaman, dan kemungkinan apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan berkaitan dengan intuisi (termasuk logika, justifikasi, dll). Suatu kebenaran dengan logika disebut koherensi, Berpikir terang berdasar pengalaman merupakan korespondensi. Selanjutnya, untuk metode berfilsafat menerjemahkan dan diterjemahkan merupakan bentuk kebebasan kita dalam berpikir. Keduanya berhubungan erat dengan teori dan praktek. Referensi merupakan teorinya, sedangkan prakteknya adalah apa yang kita pikirkan dengan sumber referensi itu.
Filsafat mempunyai tiga pilar penting yaitu: a) Ontologi; b) Epistimologi; c) Aksiologi. Ketiganya merupakan implementasi landasan filsafat murni dalam pendidikan matematika. Penerapan filsafat murni tersebut dilakukan di perguruan tinggi dan tidak dapat diterapkan di sekolah karena sulit bagi peserta didik untuk memahaminya.
Setinggi-tingginya orang berfilsafat adalah sopan-santun terhadap ruang dan waktu. Dimensi-dimensi dalam ruang dan waktu itu akan menentukan setiap fenoumena selalu bersifat tetap ataukah berubah. Fenoumena bersifat tetap jika mengikuti Permenides, dan akan bersifat berubah jika mengikuti Heraclitos. Masih berhubungan dengan para filsuf, Hilbert juga memberikan pengaruh yang besar dalam filsafat matematika. Ia berhasil membangun sistem matematika formal yang modern, yang meliputi struktur-struktur misalnya geometri, aljabar, dll yang kita gunakan sekarang di perguruan tinggi.
Selain itu ada juga konsep incomensurability yang pertama kali diterapkan oleh Pythagoras. Comensurable sendiri berarti mengukur dengan ukuran yang sama atau adil, misalnya: skala bilangan. Dalam segitiga siku-siku, skala sisi-sisi siku-sikunya bilangan bulat, maka sisi miringnya tidak bisa dinyatakan dalam bilangan bulat. Sisi miring itulah yang dinamakan incomensurability.
Selanjutnya, obyek dalam filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Antara yang ada dan yang mungkin ada merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Yang ada meliputi semua yang bisa kita nikmati dan rasakan di dunia ini. Sedangkan yang mungkin ada berada dalam pikiran kita. Bila ada pertanyaan mana yang lebih dulu antara yang ada dan yang mungkin ada, maka menurut pendapat saya yang adalah yang lebih dulu, sebab dengan yang ada maka kita dapat memikirkan yang mungkin ada.
Dalam filsafat terdapat obyek formal dan obyek material. Obyek formal dapat berupa wadah ataupun metode. Sedangkan obyek materialnya isi dari wadah itu. Tetapi wadah juga dapat menjadi isi, maka wadah juga dapat sebagai obyek material. Dalam bidang matematika, obyek formal berupa research dan obyek materialnya yaitu obyek matematika.
Wujud dari berfilsafat salah satunya dengan mengajukan pertanyaan. Dengan pertanyaan, maka pengetahuan kita dalam berfilsafat semakin berkembang. Contoh penerapannya yaitu dengan koment dalam elegi dan pada forum tanya jawab dalam blog. Pada forum tanya jawab yang berkaitan dengan orang paling seksi dalam elegi, menggambarkan orang yang paling menarik perhatian, paling berpengaruh, misalnya di Amerika yaitu Obama. Beliau merupakan orang yang memegang peranan penting di negaranya.
Sedangkan dalam forum tanya jawab yang bertemakan hantu di kelas RSBI mendiskripsikan bahwa setiap tulisan, kata-kata dan tindakan adalah doa. Selanjutnya forum tanya jawab perjalanan filsafat imajiner berisi tentang bayangan, khayalan. Tiadalah kita terbebas dari imajiner, sebab setiap saat, kapanpun dan dimanapun kita selalu membayangkan. Perjalanan imajiner akan berhenti ketika kita sedang tidur dan perjalanan kita itu selama kita tidak tidur.
Sebuah “Surat Terbuka untuk Presiden” menggambarkan betapa banyaknya permaslahan pendidikan yang ada di negara kita. Salah satunya menyangkut pelaksanaan UN. Pada kenyataannya pelaksanaan UN belum berjalan lancar. Masih banyak kendala yang dihadapi pada semua komponen pendidikan. Dari sisi peserta didik, banyak siswa yang merasa takut tidak lulus UN sehingga mereka tidak mempunyai rasa percaya diri dalam mengerjakan soal. Selain itu kesiapan siswa dalam menghadapi UN juga menjadi masalah. Dari sisi tenaga pendidik, guru kurang memotivasi siswa dalam menghadapi UN, sebagian kecil guru melakukan perbuatan yang tidak terpuji agar siswanya lulus UN, dll. Oleh karena itu dibutuhkan pendidikan karakter di negara kita ini. Pendidikan karakter akan menjadikan seseorang teguh dengan pendiriannya. Ia mempunyai karakter yang kuat untuk bekal ke depannya. Karakter ditujukan oleh siapa dan untuk siapa, maka pendidikan karakter harus dimulai dari diri kita sendiri dan generasi muda yang lain dan hasilnya untuk keberlangsungan pendidikan di Indonesia.

2 komentar:
Good...
terima kasih pak,..
Posting Komentar